Bagaimana Memanaskan Mesin Sepeda Motor yang Benar? Simak Penjelasannya

menjadi kebiasaan banyak orang, ketika akan memulai perjalanan, sepeda motor terlebih dahulu ”dipanasi”, dengan membiarkan stasioner dalam jangka waktu yang bervariasi. Apalagi sepeda motor sudah didiamkan dalam waktu yang lama (lebih dari 5 jam).

Namun untuk sepeda motor injeksi, memanasi hendaknya tidak dibuat jadi agenda wajib.
Sarwono Edi, Technical Service Training Manager PT Astra Honda Motor (AHM), menjelaskan, sepeda motor injeksi sudah jauh lebih ”pandai” ketimbang yang menggunakan karburator. Kebutuhan bahan bakar untuk mesin sudah diatur oleh Engine Control Module (ECM) dan tak perlu menarik handel gas ketika dipanasi.

”Cukup 30 detik dan maksimal 1 menit. Biarkan stasioner saja, dan oli sudah dapat bersirkulasi dengan baik pada putaran mesin stasioner. Tidak perlu digeber-geber karena akan sia-sia,” ujarnya.
Dengan memanaskan mesin tak lebih lebih dari satu menit, menurut Sarwono ada beberapa keuntungan.
Pertama, mesin sudah mendapat sirkulasi oli dengan baik.
Kedua, suhu mesin sudah cukup hangat untuk melakukan perjalanan (running), dan
Ketiga, efisien dalam penggunaan bahan bakar atau tidak banyak terbuang percuma saat dipanasi.

Sia-sia”Kalau terlalu lama (memanasi), bensin terbuang sia-sia. Sayang, lebih baik dibuat jalan. Lalu ada kemungkinan komponen lain seperti knalpot akan mengalami panas berlebihan. Bahkan bisa merusak cat knalpot tersebut,” jelasnya.

Andai tak dipanaskan pun, Sarwono berani menggaransi sepeda motor injeksi sudah siap diajak lari. Gejala ”brebet” ketika kurang panas, seperti yang sering dialami sepeda motor dengan karburator akan sangat jarang terjadi.

Salah satu bukti konkret, keberadaan tuas choke yang dulu dipasang untuk membantu ketika mesin sulit dihidupkan, kini sudah tak digunakan lagi. Bahkan saat ini keberadaannya sudah cukup langka untuk sepeda motor model baru. Pria ramah itu pun mengatakan bahwa sepeda motor fuel injection tidak memerlukan choke ,karena sudah mempunyai sensor yang mendeteksi suhu mesin, sehingga mudah dihidupkan.

Sumber : cyberbaghost.blogspot.co.id

Bahaya Satu Obat Nyamuk Bakar, Sama Dengan 130 Batang Rokok

Untuk mengusir nyamuk biasanya orang menggunakan obat pengusir nyamuk. Meskipun saat ini telah dijual obat nyamuk elektrik, masih banyak juga yang menggunakan obat nyamuk bakar.

Bahaya penggunaan obat nyamuk bakarpun sebenarnya sudah populer di masyarakat dan sering pula diberitakan di media, namun tetap saja produk ini laku di pasaran. Dari segi harga memang sangat terjangkau, dan dapat bertahan sampai 8 jam.

Padahal, penggunaan obat nyamuk jenis ini secara terus menerus sangat berbahaya dan mematikan. Apapun merk obat nyamuk bakar yang Anda gunakan, semuanya berbahaya karena mengandung zat yang dapat meracuni tubuh. Apalagi jika dibakar dalam ruang dengan ventilasi udara yang buruk.

Hal tersebut sangat berbahaya, emisi asap dapat terhirup kembali oleh kita dan racunnya akan mengendap dalam paru-paru. Jika itu berlangsung lama, akan menimbulkan masalah kesehatan yang akut dan kronis.

The US National Institute of Health menyimpulkan bahwa bahaya partikel-partikel kecil dan bahan karsinogenik pada asap pembakaran satu keping obat nyamuk bakar sama dengan asap pembakaran 50-130 batang rokok. Bayangkan berapa banyak racun yang terhirup dan mengendap di paru-paru anda jika selama bertahun-tahun anda menggunakannya.

Saya tidak dapat membayangkan jika obat nyamuk bakar ini anda gunakan setiap hari dan zat beracunnya terisap oleh anak-anak anda yang masih balita? Jika anda sayang pada diri dan sayang terhadap kesehatan anak-anak anda, Saran saya hentikan segeradan jangan pernah membakarnya lagi dirumah. Sebanyak 90% anak-anak balita yang menghirup asap obat nyamuk bakar secara terus menerus, beresiko mengalami kerusakan paru-paru.satu obat nyamuk bakar bahayanya sama dengan 130 batang rokok Anda tahu kenapa dampak pembakaran obat nyamuk itu sedemikian berbahaya pada balita dan bayi?

Sistem pernafasan bayi masih sangat rapuh dan berada dalam kondisi penyesuaian dengan lingkungan baru. Saat sistem pernafasan bayi terkontaminasi oleh polusi dan bahan kimia lainnya, tentu saja hal ini berbahaya. Jika bayi sering menghirup asap obat nyamuk bakar, atau obat nyamuk elektrik, maka bayi akan mengalami gangguan pernafasan akut, iritasi mata dan reaksi alergi bahkan akan mengalami kerusakan paru-paru permanen.

Berkaca dari pengalaman pribadi, saya memilki teman yang anaknya menderita penyakit paru-paru basah dan menurut informasi terakhir sekarang kondisinya semakin parah. Tubuhnya kurus kering dan sering sakit-sakitan. Dokter memvonis paru-paru anak tersebut mengalami kerusakan sejak berusia 2,5 tahun.

Teman saya menceritakan bahwa anaknya sakit karena sering menghirup obat nyamuk bakar. Teman saya sering membakar obat nyamuk sejak anaknya masih bayi. Dia sangat menyesal dan menyarankan agar saya tidak menggunakan obat nyamuk bakar atau obat nyamuk apapun jenisnya.Jika anda masih ingin sehat, maka hilangkan kebiasaan buruk menggunakan obat nyamuk saat tidur. Sebaiknya gunakan raket nyamuk elektrik saja. itu lebih aman untuk kesehatan. Ini penting, silahkan di share agar saudara-saudara kita terhindar dari BAHAYA...!

Sumber : m.log.viva.co.id

Sesuap Lele Mengandung 3.000 Sel Kanker,Hoax atau Fakta?

Di jejaring sosial, banyak beredar informasi yang menyebut lele sebagai ikan paling jorok. Dalam sesuap daging ikan lele, terkandung 3.000 sel kanker. Benarkah?

Julukan sebagai ikan paling jorok merujuk pada sifat lele yang doyan mengonsumsi segala jenis limbah di perairan. Bahkan sebuah artikel yang cukup viral di internet menyebutkan kotoran manusia juga dijadikan pakan pada sebuah budidaya lele di Kota Haikou, China. Sementara itu di habitat aslinya, lele atau catfish juga dikenal sebagai spesies ikan yang sangat tangguh.

Ikan ini dilengkapi alat pernapasan tambahan berupa labirin, sehingga mampu bertahan hidup dalam kondisi perairan berlumpur atau bahkan tercemar. Agaknya, fakta inilah yang memunculkan dugaan soal akumulasi racun karsinogen (penyebab kanker) di tubuh ikan lele.

Untungnya, ikan lele yang beredar di pasaran bukan berasal dari alam liar. Lele banyak dibudidayakan di kolam-kolam, yang mestinya bisa dikendalikan agar bebas dari pencemaran. Pakan yang diberikan juga bisa dipilih, tidak harus mengandalkan limbah.

Yang pasti, popularitas ikan bersungut ini tidak pernah pudar, bahkan terus meningkat. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut produksi lele pada 2013 mencapai 543,461 ton, meningkat dari 441,217 ton pada 2012 dan 337,577 ton pada 2011.

Konsumsi ikan lele menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat 29,98kg/kapita/tahun, naik dari 22,58 kg/kapita/tahun pada 2004. Di Jakarta, tak kurang dari 6.000 lapak pecel lele telah terdaftar di Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI). Soal kandungan nutrisi, tak bisa dipungkiri bahwa lele adalah sumber protein berharga yang murah meriah. Fakta bahwa ikan lele juga rendah kolesterol sepertinya bakal menenggelamkan tudingan bahwa lele bisa memicu kanker.

"Saat ini belum ada penelitian yang menyatakan jika memakan lele dapat memicu kanker," tegas dr Dradjat R Suardi, SpB(K)Onk, ahli kanker dari Perhimpunan Onkologi Indonesia.

Sumber : www.detik.com